Tanpa raut tanpa sahut, kini tak ada lagi sapaan saling menyambut, tanpa lengan yang tak lagi saling mangayun dan merengkuh, tanpa kaki yang tak lagi saling melangkah dan beriringan. Semua rasa yang kucoba bunuh pelan-pelan, semua kenangan yang sudah ku buang jauh, sejauh inginku yang menginginkan lepas dari bayang-bayangmu.
Kini tak jarang kau menyapaku lagi dan mencoba memberi perhatian-perhatian kecil, yang menurutku tidak lah penting. Entah kau sedang merasa kesepian, entah kau benar sedang merindu. Entahlah apapun alasanya itu aku tak ingin membalasnya. Aku sudah tak ingin menanggapi dan aku sudah tak ingin peduli lagi. Aku hanya ingin mengasiani hati, hati yang yang dulu kau buat hancur berkeping. Aku tak ingin lagi jatuh diluka yang sama, aku tak ingin lagi dan lagi kau lukai.
Setiap hari, semakin hari luka itu mulai membaik. Dan kau masih tak berhenti menyapaku lagi dan lagi, dan kali ini aku sempatkan untuk membalasnya, namun aku sengaja membalasnya dengan kata singkat dan seadanya, terkesan sangat cuek mungkin. Tanpa kau ingin bertanya mengapa aku seperti itu, mungkin kau mencoba memahami kekecewaanku dulu. Kadang aku ingin membencimu, aku benci semua kata yang keluar dari bibirmu, omong kosong belaka. Bagimana tidak kau yang dulu sempat memulai tanpa mengakhiri, kau bermain dengan pandainya hatimu bermain. Disitulah mengapa kadang aku sangat ingin membencimu.
Seketika aku sangat ingin membenci, namun serasa hati ini tak sanggup, Hati ini tak mampu bila harus membencimu, dan nyatanya dalam nya hati ini masih teramat tulus mencinta. Bahkan hati ini tak kuasa melihat kau terluka oleh sikapku sendiri, sebegitu tulus nya kah hati ini ?
Namun aku tak ingin menjadi manusia bodoh hanya karena prihal perasaan dan aku tak ingin membuta karena cinta. Cinta logika, untuk hati mari melupakan pelan-pelan, dia tak layak untuk kembali.
Selasa, 19 Mei 2015
Kamis, 14 Mei 2015
Aku Ingin Sendiri, Tanpamu Aku Bisa
Hari-hariku lewati dengan kesendirian setelah sempat sekarat merasakan sesaknya dada, pedihnya hati ketika harus menerima keputusanmu yang sudah tak ingin tinggal dihati ini, kau yang sudah memilih jalan lain tanpa memperdulikan air mata yang terus membanjiri pipi ini tanpa mempertimbangkan dalamnya rasa, rasa yang kau buat setengah mati hanya untukmu. Kau yang dulu pernah berjanji untuk selalu bersama dan berharap untuk bisa hidup bersama, berjuang bersama sepelik apapun itu serumit apapun itu kau berjanji memperjuangkanku sampai nafas tak lagi berhembus sampai jantung tak lagi betdetak.
Kini janji tinggalah luka, luka yang semakin menyayat, begitu perih rasanya bak disampar petir bahkan lebih perih dari pada itu, tubuhku terus bergetar tak kuasa menahan kepedihan ini, pikiranpun tak lagi waras dimalam yang sunyi mencekam ingin rasanya aku berteriak, ingin rasanya memberontak ingin rasanya aku mati saja. Seketika hatiku bertanya tanya, apa dengan mati perih ini bisa bertukar dengan bahagia? Dan seketika itu juga logikaku pulih dan berkata tidak! Ini hidup, hidup harus terus berjalan. Untuk apa meratapi kepedihan berlarut larut, untuk apa terus menerus menangisi seseorang yang sebenarnya tak pantas ditangisi. Sesakit apapun, sepedih apapun, sepait apapun katakan pada masa lalu kita telah usai, walaupun sebenarnya tidak ada yang pernah selesai, yaitu luka.
Kini dikeramaian dikesunyian aku jalani dengan kesendirian. Aku ingin sendiri, tanpamu aku bisa. Kutenangkan hati yang sempat hancur kutenangkan jiwa yang sempat bergejolak. Aku sudah tak ingin mengenal lagi kata yang kau ucap dari bibirmu, aku sudah tak ingin percaya lagi akan itu. Hatiku sudah memilih mati dan tak ingin kau sakiti lagi. Hari demi hari pun kunikmati kesendirian ini sampai aku merasa sangat terbiasa dan merasa nyaman. Untuk cinta, biarkan ia menemukanku.
Kini janji tinggalah luka, luka yang semakin menyayat, begitu perih rasanya bak disampar petir bahkan lebih perih dari pada itu, tubuhku terus bergetar tak kuasa menahan kepedihan ini, pikiranpun tak lagi waras dimalam yang sunyi mencekam ingin rasanya aku berteriak, ingin rasanya memberontak ingin rasanya aku mati saja. Seketika hatiku bertanya tanya, apa dengan mati perih ini bisa bertukar dengan bahagia? Dan seketika itu juga logikaku pulih dan berkata tidak! Ini hidup, hidup harus terus berjalan. Untuk apa meratapi kepedihan berlarut larut, untuk apa terus menerus menangisi seseorang yang sebenarnya tak pantas ditangisi. Sesakit apapun, sepedih apapun, sepait apapun katakan pada masa lalu kita telah usai, walaupun sebenarnya tidak ada yang pernah selesai, yaitu luka.
Kini dikeramaian dikesunyian aku jalani dengan kesendirian. Aku ingin sendiri, tanpamu aku bisa. Kutenangkan hati yang sempat hancur kutenangkan jiwa yang sempat bergejolak. Aku sudah tak ingin mengenal lagi kata yang kau ucap dari bibirmu, aku sudah tak ingin percaya lagi akan itu. Hatiku sudah memilih mati dan tak ingin kau sakiti lagi. Hari demi hari pun kunikmati kesendirian ini sampai aku merasa sangat terbiasa dan merasa nyaman. Untuk cinta, biarkan ia menemukanku.
Rabu, 13 Mei 2015
wanita diambang sore
Disore hari diwaktu orang sudah tak lagi ramai berdatangan ditoko, aku suka menyempatkan diri untuk duduk termenung sembari mendengarkan musik yang ada. Lagu lagu disore hari yang hampir liriknya mengingatkan tentangmu. Tentang kamu yang pernah singgah mengisi hari hariku dengan kebahagiaan, tentang kebersamaan kita disore hari itu menunggu senja ditepi laut, sungguh indah memang bila dibayangkan, seketika air mata menetes dipipi dan aku tersadar itu semua hanya masa lalu. Kamu yang sudah memilih pergi kau tanggalkan semua harapan harapan yang sudah kita urai janji janji yang sudah kita ucap. Kini janji hanya tinggal janji harapan hanyalah tinggal kenangan, ternyata tuhan hanya mempertemukan kita bukan untuk mempersatukan. Kadang cinta datang hanya untuk singgah lalu pergi.
Langganan:
Komentar (Atom)