Rabu, 21 Oktober 2015

Pergerakan Pasif


Diam - diam  pelan - pelan   tapi   pasti  (slow but sure) .  Layaknya   gerak   pada  tumbuhan,   geraknya  lambat,   tidak terlihat dengan jelas gerak  tumbuhnya.  atau bisa di sebut   GERAK   PASIF . Tetapi  walaupun  ia tak  menampakan   pertumbuhanya,  ia punya  kepastian  untuk   tetap  tumbuh  dan  berkembang.  Pelan-pelan ia  tumbuh,   lambat   laun  ia berbunga   dan  berbuah.

Salah satu perbedaan  pergerakan  tumbuhan  dengan  manusia itu,  tumbuhan  bergerak  di satu  tempat,  sedangkan  kita   bergerak ke beberapa  tempat   untuk  tumbuh  dan  berkembang.

Aku  ingin  seperti  tumbuhan   yang  tetap  tumbuh   berkembang  dan  bermanfaat  bagi  mahluk hidup   lainya.
Ia yang  tabah kala    hujan deras   membanjiri.  Dan tak  pernah   berputus  asa  ketika  datang  musim    kemarau  yang   kerontang   melanda,  siang  malam  diterpa  angin  dan  hawa dingin.  Kondisi  yang  sangat  mengenaskan.  Seperti  sedang sekarat,  namun  ia  tetap  tabah,   selalu  ingin   tumbuh  lagi  dan  lagi   sampe ia   benar- benar mati.


Terkadang  akupun  merasa  seperti  tumbuhan,  layaknya   pohon  yang  berdiri  sendiri   dan apa-apa  yang   sedang  menerpa  sebisa  mungkin  dihadapi  sendiri.
Bukanya  tidak    ingin   berbagi,  tapi   lebih ke,   ingin mencari   jati  diri.
Karena sesungguhnya   aku  tidaklah  benar-benar   sendiri.  Aku  bersama   maha  pelindung,   maha  penyayang   yang  luar biasa  agung-NYA.
Dan  karena  aku paham  perihal  keluhan  itu  aib,  aku hanya  ingin  mencurahatkan  kepada  sang  pencipta,  lewat  rapalan  doa-doa.  Karena sang agung lah  maha  pemberi  solusi dan jalan  terbaik. Seperti  tumbuhan  yang  yakin akan  tiba nya musim  semi.


So,  walaupun  bergerak  pasif   aku  ingin   tetap  tumbuh  dan  berkembang.
Walupun lambat  aku  ingin   mengejar  ketertinggalan.  semogaku bisa   setabah  tumbuhan,   tabah   sampai   akhir.

Jumat, 28 Agustus 2015

Pecinta Alas Kaki : A way of life


Detik-detik berganti menit ,menit-menit pun berganti jam dan jam perlahan lahan menjadi hari dan seterusnya putaran waktu itu berjalan maju. Ku langkahkan kaki ini ku cari jati diri ku telusuri jalan hidup ini, krikil-krikil kecil beserta jembatan duri pun sudah pernah ku rasakan.  Walaupun sempat aku tertatih tak ku hentikan langkahku ini, pelan-pelan ku pijakan lagi kaki ini bersama alas kaki, ku langkahkan pelan-pelan bersama indahnya lecutan sakit yang menyemangati ku untuk terus melaju, hingga sampai pada titik dimana aku tak sadarkan diri. Iya, aku tak sadar aku sudah berlari sangat jauh, aku sudah tak lagi tertatih dan tak sudah lagi merasakan lecutan itu .

Setelah tualang panjang aku menyempatkan diri untuk memperistirahatkan langkah kaki ini sejenak. Ku rentangkan kaki ku pandangi alas kaki ku yang  mungkin sudah nampak lusuh dipandang orang tapi tetap indah ku pandang. Aku sangat mencintai alas kaki ku aku merawatnya seperti aku merawat diri aku menyayangi lebih dari diri. Aku tak ingin ia basah terkena air hujan aku tak ingin ia kelelahan, ia satu-satunya tempat ternyaman untuk melangkahkan kaki dan sanggup menemani sejauh kaki ini melangkah, ia salah satu saksi bisu perjalanan hidup manusia .

Kini bersama mereka (alas-alas kaki) aku lebih banyak ingin mencintai hidup dan menikmati hidup, menikmati kumpulan pelajaran-pelajaran kecil yang menjadikan kaki ini semakin kuat dan tabah untuk terus melaju. Teruntuk kamu-kamu (alas kaki) ayo melangkah lagi dan buat pijakan lebih kuat .


Selasa, 19 Mei 2015

Inginku Benci Hati Tak Sanggup

Tanpa raut tanpa sahut, kini tak ada lagi sapaan saling menyambut, tanpa lengan yang tak lagi saling mangayun dan merengkuh, tanpa kaki yang tak lagi saling melangkah dan beriringan. Semua rasa yang kucoba bunuh pelan-pelan, semua kenangan yang sudah ku buang jauh, sejauh inginku yang menginginkan lepas dari bayang-bayangmu.

Kini tak jarang kau menyapaku lagi dan mencoba memberi perhatian-perhatian kecil, yang menurutku tidak lah penting. Entah kau sedang merasa kesepian, entah kau benar sedang merindu. Entahlah apapun alasanya itu aku tak ingin membalasnya. Aku sudah tak ingin menanggapi dan aku sudah tak ingin peduli lagi. Aku hanya ingin mengasiani hati, hati yang yang dulu kau buat hancur berkeping. Aku tak ingin lagi jatuh diluka yang sama, aku tak ingin lagi dan lagi kau lukai.

Setiap hari, semakin hari luka itu mulai membaik. Dan kau masih tak berhenti menyapaku lagi dan lagi, dan kali ini aku sempatkan untuk membalasnya, namun aku sengaja membalasnya dengan kata singkat dan seadanya, terkesan sangat cuek mungkin. Tanpa kau ingin bertanya mengapa aku seperti itu, mungkin kau mencoba memahami kekecewaanku dulu. Kadang aku ingin membencimu, aku benci semua kata yang keluar dari bibirmu, omong kosong belaka. Bagimana tidak kau yang dulu sempat memulai tanpa mengakhiri, kau bermain dengan pandainya hatimu bermain. Disitulah mengapa kadang aku sangat ingin membencimu.

Seketika aku sangat ingin membenci, namun serasa hati ini tak sanggup, Hati ini tak mampu bila harus membencimu, dan nyatanya dalam nya hati ini masih teramat   tulus   mencinta. Bahkan hati ini tak kuasa melihat kau terluka oleh sikapku sendiri, sebegitu tulus nya kah hati ini ?
Namun aku tak ingin menjadi manusia bodoh hanya karena prihal perasaan dan aku tak ingin membuta karena cinta. Cinta logika, untuk hati mari melupakan pelan-pelan, dia tak layak untuk kembali.

Kamis, 14 Mei 2015

Aku Ingin Sendiri, Tanpamu Aku Bisa

Hari-hariku lewati  dengan kesendirian setelah   sempat   sekarat  merasakan sesaknya dada, pedihnya hati ketika harus menerima keputusanmu yang sudah tak ingin tinggal dihati ini, kau yang sudah memilih jalan lain tanpa memperdulikan air mata yang terus membanjiri pipi ini tanpa mempertimbangkan dalamnya rasa, rasa yang kau buat setengah mati hanya untukmu. Kau yang dulu pernah berjanji untuk selalu bersama dan berharap untuk bisa hidup bersama, berjuang bersama sepelik apapun itu serumit apapun itu kau berjanji memperjuangkanku sampai nafas tak lagi berhembus sampai jantung tak lagi betdetak.

Kini janji tinggalah luka, luka yang semakin menyayat, begitu perih rasanya bak disampar petir bahkan lebih perih dari pada itu, tubuhku terus bergetar tak kuasa menahan kepedihan ini, pikiranpun tak lagi waras dimalam yang sunyi mencekam ingin rasanya aku berteriak, ingin rasanya memberontak ingin rasanya aku mati saja. Seketika hatiku bertanya tanya, apa dengan mati perih ini bisa bertukar dengan bahagia? Dan seketika itu juga logikaku pulih dan berkata tidak! Ini hidup, hidup harus terus berjalan. Untuk apa meratapi kepedihan berlarut larut, untuk apa terus menerus menangisi seseorang yang sebenarnya tak pantas ditangisi. Sesakit apapun, sepedih apapun, sepait apapun katakan pada masa lalu kita telah usai, walaupun sebenarnya tidak ada yang pernah selesai, yaitu luka.

Kini dikeramaian dikesunyian aku jalani dengan kesendirian. Aku ingin sendiri, tanpamu aku bisa. Kutenangkan hati yang sempat hancur kutenangkan jiwa yang sempat bergejolak. Aku sudah tak ingin mengenal lagi kata yang kau ucap dari bibirmu, aku sudah tak ingin percaya lagi akan itu. Hatiku sudah memilih mati dan tak ingin kau sakiti lagi. Hari demi hari pun  kunikmati kesendirian ini sampai aku merasa sangat terbiasa dan merasa nyaman. Untuk cinta, biarkan ia menemukanku.

Rabu, 13 Mei 2015

wanita diambang sore

Disore hari diwaktu orang sudah tak lagi ramai berdatangan ditoko, aku suka menyempatkan diri untuk duduk termenung sembari mendengarkan musik yang ada. Lagu lagu disore hari yang hampir liriknya mengingatkan tentangmu. Tentang kamu yang pernah singgah mengisi hari hariku dengan kebahagiaan, tentang kebersamaan kita disore hari itu menunggu senja ditepi laut, sungguh indah memang bila dibayangkan, seketika air mata menetes dipipi dan aku tersadar itu semua hanya masa lalu. Kamu yang sudah memilih pergi kau tanggalkan semua harapan harapan yang sudah kita urai janji janji yang sudah kita ucap. Kini janji hanya tinggal janji harapan hanyalah tinggal kenangan, ternyata tuhan hanya mempertemukan kita bukan untuk mempersatukan. Kadang cinta datang hanya untuk singgah lalu pergi.